expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Pages

Minggu, 02 September 2012

Misteri Kraken, Legenda Raksasa Sang Penguasa Laut


Mungkin tidak ada monster legendaris yang lebih mengerikan dibandingkan dengan Kraken, penguasa lautan yang membuat para pelaut bergidik ketakutan. Apa yang menarik dari legenda Kraken adalah adanya kemungkinan kalau legenda ini mungkin memang berdasarkan pada sesuatu yang nyata.
Kraken adalah seekor monster yang digambarkan sebagai makhluk raksasa yang berdiam di lautan wilayah Islandia dan Norwegia. Makhluk ini disebut sering menyerang kapal yang lewat dengan cara menggulungnya dengan tentakel raksasanya dan menariknya ke bawah.
Kata Kraken sendiri berasal dari Kata “Krake” dari bahasa Skandinavia yang artinya merujuk kepada hewan yang tidak sehat atau sesuatu yang aneh. Kata ini masih digunakan di dalam bahasa jerman modern untuk merujuk kepada Gurita.
Begitu populernya makhluk ini sampai-sampai ia sering disinggung di dalam film-film populer seperti Pirates of the Caribbean atau Clash of The Titans. Jika ada makhluk raksasa penguasa lautan, maka Krakenlah namanya.
Karakter Kraken
Kita mungkin mengira Kraken hanyalah sebuah bagian dari dongeng, namun sebenarnya tidak demikian. Sebutan Kraken pertama kali muncul dalam buku Systema Naturae yang ditulis Carolus Linnaeus pada tahun 1735.
Mr. Linnaeus adalah orang yang pertama kali mengklasifikasi makhluk hidup ke dalam golongan-golongannya. Dalam bukunya itu, ia mengklasifikasikan Kraken ke dalam golongan Chepalopoda dengan nama latin Microcosmus. Jadi, boleh dibilang kalau Kraken memiliki tempat di dalam sains modern.
Erik Ludvigsen Pontopiddan, Uskup Bergen yang juga seorang naturalis, pernah menulis di dalam bukunya Natural History of Norway yang terbit tahun 1752 kalau Kraken “tidak bisa disangkal, adalah monster laut terbesar yang pernah dikenal“.
Menurut Pontopiddan, Kraken memiliki ukuran sebesar sebuah pulau yang terapung dan memiliki tentakel seperti bintang laut. Ia juga menyebutkan kalau makhluk ini bisa menggulung kapal yang lewat dengan tentakelnya dan menariknya ke dasar lautan. Namun, menurut Pontopiddan, bahaya terutama dari Kraken adalah riak air yang dashyat ketika ia menyelam ke dalam laut. Riak itu bisa menenggelamkan kapal yang ada di dekatnya.
Menariknya, selain menggambarkan Kraken sebagai makhluk yang berbahaya, Pontopiddan juga menulis mengenai sisi lain dari makhluk misterius ini. Ia menyebutkan kalau ikan-ikan di laut suka berada di dekat Kraken. Karena itu juga, para nelayan Norwegia yang mengetahui hal ini suka mengambil risiko untuk menangkap ikan dengan membawa kapalnya hingga berada tepat di atas Kraken.
Jika mereka pulang dengan membawa hasil tangkapan yang banyak, para penduduk desa tahu kalau para nelayan tersebut pastilah telah menangkap ikan tepat di atas Kraken.
Sejak lama, makhluk ini hanya dianggap sebagai bagian dari Mitologi kuno yang setara dengan sebuah dongeng. Namun ketika sisa-sisa bangkai monster ini terdampar di pantai Albaek, Denmark, Pada tahun 1853, para ilmuwan mulai menyadari kalau legenda mengenai Kraken mungkin memang berdasarkan pada sesuatu yang nyata, yaitu cumi-cumi raksasa (Giant Squid)cumi-cumi kolosal (Colossal Squid) atau Gurita raksasa (Giant Octopus).
Seberapa besarkan seekor cumi atau gurita bisa bertumbuh?
Benarkan mereka bisa menyerang sebuah kapal besar seperti yang digambarkan di film-film?

Penampakan Signifikan

Pada tahun 1801, Pierre Denys de Montfort yang menyelidiki subjek mengenai Kraken menemukan kalau di Kapel St.Thomas di St.Malo, Brittany, Perancis, ada sebuah lukisan yang menggambarkan seekor gurita raksasa sedang menyerang sebuah kapal dengan cara menggulungnya dengan tentakelnya. Insiden yang tergambar dalam lukisan tersebut ternyata berdasarkan pada peristiwa nyata.
Dikisahkan kalau kapal tersebut adalah kapal Norwegia yang sedang berada di lepas pantai Angola. Ketika mendapatkan serangan tak terduga tersebut, para pelaut di atas kapal lalu membuat sebuah kaul untuk St.Thomas yaitu jika mereka dapat terlepas dari bahaya ini, mereka akan melakukan perjalanan ziarah.
Para awak kapal kemudian mengambil kapak dan mulai melawan monster itu dengan memotong tentakel-tentakelnya. Monster itupun pergi. Sebagai pemenuhan atas kaul itu, para awak kemudian mengunjungi Kapel St.Thomas di Britanny dan menggantung lukisan itu sebagai ilustrasi atas peristiwa yang menimpa mereka.
Sayangnya, peristiwa yang menimpa para pelaut itu tidak diketahui persis tahun terjadinya. Namun, paling tidak, penyerangan monster raksasa terhadap sebuah kapal tidak bisa dibilang sebagai mitos semata.
Selain kisah lukisan di Kapel St.Thomas, Mr.Monfort juga menceritakan perjumpaan lain dengan makhluk serupa cumi atau gurita raksasa yang dialami oleh kapten Jean-Magnus Dens dari Denmark yang bertemu dengan makhluk itu juga di lepas pantai Angola. Makhluk raksasa itu menyerang kapal mereka dan bahkan berhasil membunuh tiga awaknya.
Para awak kapal yang lain tidak tinggal diam dan segera mengambil meriam dan menembakkannya ke monster itu berulang-ulang hingga ia menghilang ke dalam lautan.
Kapten Dens memperkirakan monster itu memiliki panjang 11 meter.
Kisah lain terjadi pada tanggal 30 November 1861. Ketika sedang berlayar di kepulauan Canary, para awak kapal Perancis, Alencton, menyaksikan seekor monster laut raksasa berenang tidak jauh dari kapal. Para pelaut segera menyiapkan peluru dan mortir yang kemudian ditembakkannya ke arah monster itu.
Monster yang ketakutan dengan segera berenang menjauh. Namun, kapal Alencton segera diarahkan untuk mengejarnya. Ketika mereka berhasil mendekatinya, garpu-garpu besi segera dihujamkan ke tubuh monster itu dan jaring segera dilemparkan. Ketika para awak mengangkat jaring itu, tubuh monster itu patah dan hancur yang kemudian segera jatuh ke dalam air dengan menyisakan hanya sebagian dari tentakelnya.
Ketika kapal itu mendarat dan tentakel itu diperlihatkan kepada komunitas ilmuwan, mereka sepakat kalau para awak kapal mungkin telah menyaksikan seekor cumi raksasa dengan panjang sekitar 8 meter.
Pada bulan Oktober 1873, seorang nelayan bernama Theophile Piccot dan anaknya berhasil menemukan tentakel cumi raksasa di Newfoundland. Setelah diukur, para peneliti menyimpulkan kalau hewan itu kemungkinan memiliki panjang hingga 11 meter.
Pada tahun 1924, Frank T.Bullen menerbitkan sebuah buku yang berjudul The Cruise of the Chacalot. Dalam buku ini, Bullen menceritakan sebuah kisah luar biasa yang disebut terjadi pada tahun 1875. Kisah ini membuat Kraken mendapatkan musuh abadinya, yaitu Paus Penyembur (Sperm Whale).
Menurut Bullen, pada tahun 1875 ia sedang berada di sebuah kapal yang sedang berlayar di selat Malaka. Ketika malam bulan purnama, ia melihat ada sebuah riakan besar di air.
“Ada gerakan besar di dalam laut saat purnama. Aku meraih teropong malam yang selalu siap di gantungannya. Aku melihat seekor paus penyembur besar sedang terlibat perang hebat dengan seekor cumi-cumi yang memiliki tubuh hampir sebesar paus itu. Kepala paus itu terlihat lincah seperti tangan saja layaknya. Paus itu terlihat sedang menggigit tentakel cumi itu dengan sistematis. Di samping kepalanya yang hitam, juga terlihat kepala cumi yang besar. Mengerikan, aku tidak pernah membayangkan ada cumi dengan kepala sebesar itu.”
Mendengar kesaksian Bullen, kita mungkin tergoda untuk mengatakan kalau ia membesar-besarkan atau mungkin mengarangnya saja. Namun, pada Oktober 2009, komunitas ilmuwan menyadari kalau kisah yang diceritakan Bullen mungkin memang bukan sekedar cerita fiksi. Cumi raksasa memang bermusuhan dengan Paus Penyembur.
Di wilayah perairan di pulau Bonin di Jepang, para peneliti kelautan berhasil mendapatkan foto-foto langka yang memperlihatkan seekor paus penyembur sedang menyantap seekor cumi raksasa yang diperkirakan memiliki panjang 9 meter.
Dendam lama tidak pernah berakhir.

Giant Squid, Colossal Squid dan Giant Octopus

Sekarang, mari kita sedikit mengenal lebih jauh tiga teman raksasa kita yang mungkin telah memicu legenda Kraken. Saya akan mulai dari Giant Squid atau Cumi raksasa.
Giant Squid atau Cumi-cumi raksasa
Giant Squid atau cumi-cumi raksasa yang berasal dari genus Architeuthis ini memiliki 8 spesies dan diketahui bisa memiliki panjang hingga 13 meter bagi yang betina dan 10 meter untuk yang jantan. Ukuran ini dihitung dari sirip caudal hingga ujung tentakelnya. Namun, ukuran cumi ini bisa jadi lebih besar daripada yang diperkirakan.
Pada tahun 1880, potongan tentakel ditemukan di Selandia Baru dan diperkirakan merupakan milik dari cumi raksasa yang memiliki panjang 18 meter. Ukuran yang sangat luar biasa!
Ide kalau seekor cumi raksasa bisa menenggelamkan sebuah kapal mungkin terdengar mengada-ngada pada zaman ini. Namun, pada abad pertengahan, ukuran kapal tidak sebesar yang kita miliki sekarang. Contohnya, kapal Columbus yang bernama Pinta hanya memiliki panjang 18 meter. Sebuah cumi sepanjang 10-15 meter sudah bisa dipastikan dapat menyerang dan menenggelamkan kapal ini dengan mudah.
Perilaku giant Squid ini hampir tidak pernah dikenal sebelumnya hingga pada tahun 2004 ketika para ilmuwan Jepang berhasil mendapatkan 556 foto makhluk ini dalam keadaan hidup. Cumi-cumi tersebut terperangkap dalam sebuah jebakan yang dibuat. Ketika ia berhasil lolos, salah satu tentakelnya yang memiliki panjang 5,5 meter putus. Dari panjang ini, para ilmuwan tersebut memperkirakan kalau makhluk itu memiliki panjang 8 meter.
Colossal Squid atau Cumi Kolosal
Apabila kita mengira Cumi raksasa sudah memiliki ukuran yang luar biasa, maka, perkenalkan makhluk yang satu ini, Colossal Squid atau Cumi kolosal.
Makhluk ini memiliki nama latin Mesonychoteuthis hamiltoni dan para ilmuwan percaya kalau makhluk ini bisa bertumbuh hingga paling tidak memiliki panjang 14 meter. Ini membuatnya menjadi hewan invertebrata terpanjang di dunia. Walaupun demikian, para ilmuwan tidak bisa memastikan hingga seberapa panjang hewan ini bisa bertumbuh.
Mengenai Colossal Squid, Dr.Steve O’Shea, ahli cumi dari Auckland University berkata:
“Sekarang kita tahu kalau makhluk ini memiliki ukuran yang lebih besar dibanding Giant Squid. Giant Squid bukan lagi cumi terbesar di luar sana. Sekarang kita memiliki sesuatu yang lebih besar. Bahkan bukan cuma sekedar besar, tetapi benar-benar jauh lebih besar.”
Colossal Squid di foto di atas ditangkap di Laut Ross dan memiliki panjang mantel 2,5 meter. Ukuran ini termasuk luar biasa karena Giant Squid terbesar yang diketahui hanya memiliki panjang mantel 2,25 meter. Lagipula, Colossal Squid di atas dipercaya masih dapat bertambah panjang hingga mencapai ukuran yang jauh lebih besar.
Jika ada Kraken di luar sana, maka bisa dipastikan kalau Colossal Squid adalah tersangka paling utamanya.
Lalu, apa bedanya Giant Squid dan Colossal Squid?
Giant Squid hanya memiliki tentakel yang memiliki lubang penghisap dan gigi-gigi kecil, sedangkan Colossal Squid memiliki tentakel yang juga dilengkapi dengan kait yang tajam. Beberapa kait bahkan memiliki 3 ujung.
Selain dua jenis Cumi-cumi di atas, makhluk yang satu ini juga memiliki tentakel dan bisa bertumbuh dalam ukuran yang luar biasa, yaitu Giant Octopus.
Giant Octopus atau Gurita Raksasa
Giant Octopus atau gurita raksasa bisa bertumbuh hingga memiliki panjang 9 meter. Panjang ini cukup membuatnya menjadi monster yang ditakuti oleh para pelaut. Makhluk inilah yang dipercaya Monfort sebagai monster yang menyerang para pelaut Norwegia di lepas pantai Angola yang lukisannya tergantung di Kapel St.Thomas.
Bangkai ini terdampar di pantai St.Augustine, Florida tahun 1896. Dipercaya sebagai Giant Octopus
Pada masa kini, teori mengenai Cumi atau Gurita raksasa dianggap sebagai penjelasan yang paling masuk akal mengenai legenda Kraken.
Jika kita beranggapan kalau legenda Eropa yang mengatakan kalau Kraken memiliki ukuran sebesar sebuah pulau sebagai “membesar-besarkan”, maka mungkin misteri Kraken memang sudah terpecahkan.
Tetapi, bagaimana kita bisa memastikannya?

Sumber: wikipediabbc.co.uknationalgeographic.comunmuseum.org,marinebiology.suite101.com

Minggu, 12 Agustus 2012

Bukti Foto Monster Loch Ness Terbaru, Benar Atau Tidak?

George Edwards, seorang nakhoda yang menghabiskan waktu puluhan tahun mencari makhluk yang diduga mendiami Loch Ness, menyatakan bahwa akhirnya dia menemukan monster yang sukar dipahami tersebut dan mengabadikannya dalam sebuah foto.

Pada 2 November 2011, Edwards memotret benda yang tampak seperti sebuah punuk tunggal di perairan dari dek kapalnya yang dinamakan “Nessie Hunter.” Edwards mengatakan bahwa makhluk tersebut “bergerak perlahan di danau menuju Istana Urquhart dan berwarna abu-abu gelap. Makhluk tersebut terletak jauh dari kapal, mungkin sekitar 0,8 kilometer namun sulit untuk dipastikan karena berada di air,” tulis Daily Mail, yang memajang foto Edward.
Dia melihat objek selama lima hingga 10 menit sebelum objek tersebut berlahan tenggelam dan tidak muncul kembali ke permukaan.

Edwards mengatakan bahwa dia menunggu untuk merilis foto tersebut hingga pakar (yang dirahasiakan namanya), memeriksa foto tersebut. Anehnya, Daily Mail mengutip bahwa dia mengatakan foto tersebut sudah “diverifikasi secara independen oleh sebuah tim ahli militer AS untuk monster.” Padahal, militer AS tidak memiliki sebuah tim “ahli monster” untuk memeriksa makhluk besar, yang tidak diketahui di seluruh dunia. 

Mungkin “verifikasi” yang dimaksud sekadar menyatakan bahwa foto tersebut asli (bukan hasil manipulasi digital) dari objek yang berada di perairan. Bentuk makhluk tersebut juga dipertanyakan karena bisa jadi itu hanya ikan, kayu yang mengapung atau bahkan monster laut.

Deskripsi Edwards dari penemuannya tersebut menimbulkan lebih banyak pertanyaan. Contohnya, jika dia melihat objek tersebut selama 5-10 menit, mengapa dia hanya memotret satu kali? Rentang waktu tersebut cukup untuk mengambil puluhan atau ratusan foto. Dan meskipun objek yang tidak dikenal tersebut terlihat besar, tidak mungkin untuk menentukan ukurannya karena kita tidak tahu jarak pasti dari objek (meskipun Edward mengatakan berjarak 0,8 kilometer) dan tidak ada skala di dekat situ yang dapat membantu penentuan ukurannya. 

Bergantung pada seberapa dekat objek tersebut pada kamera, makhluk tersebut dapat memiliki panjang 1,5 meter atau 15 meter. 

Petunjuk samar untuk misteri?

Ada banyak makhluk yang tidak diketahui, namun jika penemuan Edwards benar, hal tersebut dapat memberikan petunjuk penting untuk identitas “monster” tersebut. Objek misterius lainnya yang mengambang di danau diketahui berperilaku sama seperti apa yang dituturkan Edwards – contohnya, penemuan “Champu” yang paling terkenal, yang hidup di Danau Champlain, Vermont. 

Seorang wanita bernama Sandra Mansi melihat dan memotret “Champ” membuat foto tersebut menjadi “foto terbaik” dari monster danau di mana pun.

Makhluk berpunuk berwarna gelap tersebut kemudian dikatakan mungkin merupakan batang pohon yang tenggelam yang muncul ke permukaan akibat gas apung yang tercipta saat penguraian. Kayu tersebut naik ke permukaan, terapung selama 5-10 menit (pada saat di mana kayu tersebut terlihat sama persis seperti punuk monster), kemudian tenggelam kembali dan tidak pernah terlihat lagi. Itu memang fenomena yang disusun apik yang dapat — dan sudah — menciptakan foto dan kesaksian penglihatan penampakan monster danau yang palsu.

Hipotesis kayu mengambang tersebut juga menjelaskan mengapa gambar-gambar tersebut bagus, tidak seperti biasanya: Tidak sama seperti binatang atau gelombang yang muncul selama beberapa detik dan menghasilkan gambar yang kabur, sebuah kayu tetap diam selama beberapa menit, sehingga dapat menghasilkan foto yang lebih tajam dan jelas. Kemudian objek tersebut tenggelam kembali ke dasar danau dan tidak pernah muncul lagi, sehingga menjadi foto monster yang misterius “yang terbaik yang pernah ada.”

Solusi untuk salah satu foto monster “terbaik yang pernah ada” tidak memberikan solusi pada foto “terbaik yang pernah ada” lainnya, meskipun Danau Champlain dan Danau Ness (Loch Ness) memiliki banyak kesamaan karakteristik (termasuk hutan tepi danau). Kesamaan tersebut mematahkan kebenarannya, dan membuat orang dapat mencurgai fenomena hidrologis alami yang sama yang bertanggung jawab atas terciptanya kedua foto monster tersebut.

Tentu saja ada insentif ekonomi yang besar untuk mempromosikan monster seperti Nessi, yaitu pariwisata. Loch Ness merupakan daya tarik utama pariwisata Skotlandia, dan Edwards bekerja sebagai pemandu wisatawan yang berasal dari seluruh dunia yang berharap dapat melihat sekilas monster terkenal tersebut. 

Tidak pernah ada orang yang menganggap Edwards memalsukan foto tersebut, namun rasanya adil jika sebuah bentuk ambigu terlihat di perairan Ness, interpretasi monster tersebut tampaknya akan diterima daripada sebagai sebuah hal yang biasa. Jika itu merupakan seekor ikan, atau kayu yang mengapung, maka itu tidak akan menjadi berita; jika itu merupakan kemungkinan “bukti terbaik” dari Nessie, maka itu akan menjadi berita internasional.

Monster Loch Ness pertama kali diketahui masyarakat internasional pada 1930-an setelah sebuah foto yang tersebar luas menampilkan sebuah kepala dan leher berkelok. Foto tersebut, diambil oleh seorang ahli bedah asal London bernama Kenneth Wilson, yang dianggap sebagai bukti terbaik Nessi — hingga akhirnya foto tersebut diakui palsu beberapa dekade setelah itu. 

Loch Ness sendiri telah berulang kali diteliti selama lebih dari 70 tahun, menggunakan segala cara, mulai dari kapal selam kecil, penyelam dan kamera yang diikatkan pada lumba-lumba, pada 2003, sebuah tim peneliti yang disponsori oleh British Broadcasting Corporation (BBC) melakukan penelitian yang paling besar dan mendalam pada Loch Ness yang pernah dilakukan. Mereka menjelajahi danau menggunakan 600 sinyal sonar terpisah dan navigasi satelit. Hasilnya, tidak ada makhluk besar yang ditemukan. 

Jika Edwards memang memotret sebuah kayu yang mengapung, tidak mungkin untuk membuktikannya dengan cara apapun dalam sembilan bulan mendatang. Foto Edwards bisa jadi atau memang bukan monster Loch Ness, namun satu hal yang pasti: Itu bukan bukti foto “terbaik” pertama yang pernah ada, dan foto tersebut juga tidak akan menjadi yang terakhir.