expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Pages

Minggu, 12 Agustus 2012

Bukti Foto Monster Loch Ness Terbaru, Benar Atau Tidak?

George Edwards, seorang nakhoda yang menghabiskan waktu puluhan tahun mencari makhluk yang diduga mendiami Loch Ness, menyatakan bahwa akhirnya dia menemukan monster yang sukar dipahami tersebut dan mengabadikannya dalam sebuah foto.

Pada 2 November 2011, Edwards memotret benda yang tampak seperti sebuah punuk tunggal di perairan dari dek kapalnya yang dinamakan “Nessie Hunter.” Edwards mengatakan bahwa makhluk tersebut “bergerak perlahan di danau menuju Istana Urquhart dan berwarna abu-abu gelap. Makhluk tersebut terletak jauh dari kapal, mungkin sekitar 0,8 kilometer namun sulit untuk dipastikan karena berada di air,” tulis Daily Mail, yang memajang foto Edward.
Dia melihat objek selama lima hingga 10 menit sebelum objek tersebut berlahan tenggelam dan tidak muncul kembali ke permukaan.

Edwards mengatakan bahwa dia menunggu untuk merilis foto tersebut hingga pakar (yang dirahasiakan namanya), memeriksa foto tersebut. Anehnya, Daily Mail mengutip bahwa dia mengatakan foto tersebut sudah “diverifikasi secara independen oleh sebuah tim ahli militer AS untuk monster.” Padahal, militer AS tidak memiliki sebuah tim “ahli monster” untuk memeriksa makhluk besar, yang tidak diketahui di seluruh dunia. 

Mungkin “verifikasi” yang dimaksud sekadar menyatakan bahwa foto tersebut asli (bukan hasil manipulasi digital) dari objek yang berada di perairan. Bentuk makhluk tersebut juga dipertanyakan karena bisa jadi itu hanya ikan, kayu yang mengapung atau bahkan monster laut.

Deskripsi Edwards dari penemuannya tersebut menimbulkan lebih banyak pertanyaan. Contohnya, jika dia melihat objek tersebut selama 5-10 menit, mengapa dia hanya memotret satu kali? Rentang waktu tersebut cukup untuk mengambil puluhan atau ratusan foto. Dan meskipun objek yang tidak dikenal tersebut terlihat besar, tidak mungkin untuk menentukan ukurannya karena kita tidak tahu jarak pasti dari objek (meskipun Edward mengatakan berjarak 0,8 kilometer) dan tidak ada skala di dekat situ yang dapat membantu penentuan ukurannya. 

Bergantung pada seberapa dekat objek tersebut pada kamera, makhluk tersebut dapat memiliki panjang 1,5 meter atau 15 meter. 

Petunjuk samar untuk misteri?

Ada banyak makhluk yang tidak diketahui, namun jika penemuan Edwards benar, hal tersebut dapat memberikan petunjuk penting untuk identitas “monster” tersebut. Objek misterius lainnya yang mengambang di danau diketahui berperilaku sama seperti apa yang dituturkan Edwards – contohnya, penemuan “Champu” yang paling terkenal, yang hidup di Danau Champlain, Vermont. 

Seorang wanita bernama Sandra Mansi melihat dan memotret “Champ” membuat foto tersebut menjadi “foto terbaik” dari monster danau di mana pun.

Makhluk berpunuk berwarna gelap tersebut kemudian dikatakan mungkin merupakan batang pohon yang tenggelam yang muncul ke permukaan akibat gas apung yang tercipta saat penguraian. Kayu tersebut naik ke permukaan, terapung selama 5-10 menit (pada saat di mana kayu tersebut terlihat sama persis seperti punuk monster), kemudian tenggelam kembali dan tidak pernah terlihat lagi. Itu memang fenomena yang disusun apik yang dapat — dan sudah — menciptakan foto dan kesaksian penglihatan penampakan monster danau yang palsu.

Hipotesis kayu mengambang tersebut juga menjelaskan mengapa gambar-gambar tersebut bagus, tidak seperti biasanya: Tidak sama seperti binatang atau gelombang yang muncul selama beberapa detik dan menghasilkan gambar yang kabur, sebuah kayu tetap diam selama beberapa menit, sehingga dapat menghasilkan foto yang lebih tajam dan jelas. Kemudian objek tersebut tenggelam kembali ke dasar danau dan tidak pernah muncul lagi, sehingga menjadi foto monster yang misterius “yang terbaik yang pernah ada.”

Solusi untuk salah satu foto monster “terbaik yang pernah ada” tidak memberikan solusi pada foto “terbaik yang pernah ada” lainnya, meskipun Danau Champlain dan Danau Ness (Loch Ness) memiliki banyak kesamaan karakteristik (termasuk hutan tepi danau). Kesamaan tersebut mematahkan kebenarannya, dan membuat orang dapat mencurgai fenomena hidrologis alami yang sama yang bertanggung jawab atas terciptanya kedua foto monster tersebut.

Tentu saja ada insentif ekonomi yang besar untuk mempromosikan monster seperti Nessi, yaitu pariwisata. Loch Ness merupakan daya tarik utama pariwisata Skotlandia, dan Edwards bekerja sebagai pemandu wisatawan yang berasal dari seluruh dunia yang berharap dapat melihat sekilas monster terkenal tersebut. 

Tidak pernah ada orang yang menganggap Edwards memalsukan foto tersebut, namun rasanya adil jika sebuah bentuk ambigu terlihat di perairan Ness, interpretasi monster tersebut tampaknya akan diterima daripada sebagai sebuah hal yang biasa. Jika itu merupakan seekor ikan, atau kayu yang mengapung, maka itu tidak akan menjadi berita; jika itu merupakan kemungkinan “bukti terbaik” dari Nessie, maka itu akan menjadi berita internasional.

Monster Loch Ness pertama kali diketahui masyarakat internasional pada 1930-an setelah sebuah foto yang tersebar luas menampilkan sebuah kepala dan leher berkelok. Foto tersebut, diambil oleh seorang ahli bedah asal London bernama Kenneth Wilson, yang dianggap sebagai bukti terbaik Nessi — hingga akhirnya foto tersebut diakui palsu beberapa dekade setelah itu. 

Loch Ness sendiri telah berulang kali diteliti selama lebih dari 70 tahun, menggunakan segala cara, mulai dari kapal selam kecil, penyelam dan kamera yang diikatkan pada lumba-lumba, pada 2003, sebuah tim peneliti yang disponsori oleh British Broadcasting Corporation (BBC) melakukan penelitian yang paling besar dan mendalam pada Loch Ness yang pernah dilakukan. Mereka menjelajahi danau menggunakan 600 sinyal sonar terpisah dan navigasi satelit. Hasilnya, tidak ada makhluk besar yang ditemukan. 

Jika Edwards memang memotret sebuah kayu yang mengapung, tidak mungkin untuk membuktikannya dengan cara apapun dalam sembilan bulan mendatang. Foto Edwards bisa jadi atau memang bukan monster Loch Ness, namun satu hal yang pasti: Itu bukan bukti foto “terbaik” pertama yang pernah ada, dan foto tersebut juga tidak akan menjadi yang terakhir.

Sabtu, 04 Agustus 2012

Peraturan Game Korea


Game memang bukanlah sekedar sebuah permainan virtual di Korea Selatan, ia sudah menjadi bagian dari gaya hidup yang tidak terpisahkan. Korea Selatan juga menjadi satu dari sedikit negara yang mampu memosisikan para gamer professionalnya dengan tingkat popularitas yang tidak kalah dengan para publik figur. Tingkat apresiasi yang tinggi terhadap industri game, kemunculan game MMO berkualitas tinggi, dan tingkat konektivitas internet yang mencapai 93% dari keseluruhan populasi ternyata menghasilkan sebuah masalah baru. Beberapa tahun belakangan ini, Korea Selatan harus berhadapan dengan masalah adiksi dan perilaku internet yang tidak pantas, khususnya untuk para kaum mudanya. Oleh karena itu, pemerintah KorSel mengeluarkan kebijakan baru sebagai sistem “kontrol” untuk menciptakan atmosfer permainan yang lebih sehat.

Selain membatasi waktu permainan, pemerintah Korea Selatan baru saja mengeluarkan kebijakan baru yang ditujukan untuk mengatur “sistem ekonomi” yang seringkali terjadi di sebuah game MMO. Pemerintah kini melarang semua transaksi jual-beli item dan equipment virtual dengan uang nyata. Hal ini dilihat sebagai cara yang tepat untuk menciptakan atmosfer permainan yang lebih sehat dan strategi yang tepat untuk membatasi ketertarikan gamer MMO untuk terus memainkan game tersebut. Selain itu, pemerintah Korea Selatan juga melarang penggunaan program dan hack bot yang memungkinkan player melakukan farming item dan uang tanpa kehadiran si player sendiri. Pemerintah merasa bahwa kedua aspek ini telah menyebabkan cukup masalah sosial di masyarakat, terutama dari kalangan remaja.


Dengan regulasi ini, para gamer MMO di Korea dilarang untuk menjual item dan equipment dalam uang nyata, sekaligus menggunakan bot untuk farming. Berani melanggar? 50 Juta Won + 5 tahun penjara!


Korea Selatan juga tampaknya tidak main-main dengan aturan yang satu ini. Bagi siapapun yang melanggar kedua aturan ini, baik yang tetap bertransaksi dengan uang nyata maupun yang menggunakan program-program ilegal untuk bot dan farming, pemerintah akan memberikan denda sebesar 50 juta Won atau sekitar 40.000 USD. Tidak hanya itu saja, mereka juga terancam hukuman penjara maksimal 5 tahun. Wow! Hal ini dirasakan perlu untuk menciptakan atmosfer gaming online yang lebih sehat dan melindungi kaum muda Korea Selatan dari adiksi dan kenakalan yang terkait dengan perilaku gaming ini. Sebuah kebijakan dan bentuk perhatian yang layak untuk dicontoh oleh pemerintah Indonesia, yang saat ini, seolah tidak peduli dengan masalah dan dinamika kehidupan manusia mudanya. Miris.

Source: KoreaTimes

sudah terlalu ekstrem peraturan dan Gamer Korea.

Daftar game online saja harus pake KTP dan Surat keterangan sehat